Makin Tua Makin Miskin | Versi Revisi Juni 2025

Tim RBeBe - 12 October 2021

'90% milenial bahkan profesional terancam bangkrut dan miskin saat pensiun atau saat hari tua' demikian awal tulisan Theodorus Wiryawan, CEO Wyrsolution yang belasan tahun malang melintang di dunia perbankan, tepatnya di BCA dan Citibank. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan "Apakah milenial atau generasi baby boomers sungguh paham pengelolaan uang dan mau mengembangkannya?", karena tampaknya banyak yang kurang peduli atau bahkan tidak peduli.

Foto: Screenshoot dari video (klik) Ekonomi Produktif (Cemara 19 Channel)

Jumlah Tabungan Uang di Indonesia

Wiryawan membeberkan beberapa fakta yang menarik:

Data LPS Juni 2025 menemukan fakta bahwa total rekening seluruh masyarakat Indonesia berjumlah 636 juta rekening dengan total dana. Rp 9.000 triliun (bandingkan dengan data Juli 2021: jumlah rekening 359,9 juta dengan total dana Rp. 6.948 triliun).

Selama 15 tahun jumlah rekening dengan dana dibawah Rp 100 juta TERUS BERTAMBAH tapi uangnya cenderung TIDAK BERTAMBAH:

  • Dana dibawah Rp.100 juta berjumlah 629 juta rekening (98% dari jumlah seluruh rekening). 

  • Total jumlahnya Rp. 1.080 Triliun (12 % dari jumlah seluruh uang di perbankan Indonesia, menurun dari 14% di Juli 2021).

Rekening diatas Rp.500 juta berjumlah 1,7 juta rekening. Walaupun tergolong sedikit tapi dananya sekitar Rp. 6.700 Triliun atau 75 % dari seluruh uang di rekening Indonesia (sementara th.2021 jumlah: 1,4 juta rekening dengan dana sekitar Rp. 5.000 Triliun, 71 % dari seluruh uang di rekening Indonesia).

Bank Terfavorit

Hampir 70% rekening tabungan di seluruh Indonesia ada di: BCA, Mandiri, BNI dan BRI. Wiryawan melakukan survey kecil dengan menanyakan kepada 10 orang disekitarnya, berapa bunga tabungan dari empat bank papan atas tersebut. Hasilnya, 7 orang mengatakan tidak tahu dan 3 orang menjawab salah, tampak tidak ada yg sadar berapa bunga tabungannya.

(Foto dari screenshoot di http://dapurpeta.blogspot.com/)

Contoh Biaya Administrasi dan Bunga Bank

Untuk BCA

  • Saldo dibawah Rp. 10 juta, BCA tidak memberikan bunga kepada nasabahnya dan masih membebankan biaya administrasi yaitu jenis Silver Rp. 15.000/bulan, Gold Rp. 17.000/bulan dan Platinum Rp. 20.000/bulan.

  • Bunga bank tidak konsisten, bisa naik atau turun dan relatif kecil bahkan bila saldo tabungannya kecil tidak ada bunga, 

  • Saldo Rp 1 juta - < Rp 50 juta: 0,08% per tahun (data Oktober 2025)

  • Misalkan jumlah tabungan/saldo 15 juta, maka bunga 12 ribu/tahun atau 1 ribu (seribu)/bulan

Sementara orang tersebut harus mengeluarkan biaya administrasi Rp. 15 ribu - 20 ribu/bulan. Maka yang terjadi, setiap bulan tabungannya akan berkurang. Pemilik tabungan dengan jumlah kecil, kemungkinan banyak yang tidak menyadari atau tidak peduli kalau tabungan mereka terus berkurang.

Kartu Kredit

Kartu kredit juga banyak menggoda pengeluaran masyarakat. Banyak orang terdorong senang bertransaksi karena dibayarkan oleh bank dahulu, lalu nasabah akan membayar dengan mencicil.

  • Jarang seseorang membayar tagihan kartu kredit secara tunai (transactor) dan hal itu memang tidak membawa keuntungan berarti bagi Bank terkait.

  • Nasabah biasanya membayar tagihan dengan menyicil (revolver) yang sangat menguntungkan Bank, karena nasabah ditagih bunga pinjaman/cicilan (bisa sampai 30%/tahun). Cara perhitungan bunganya, nasabah bisa membayar minimum payment yaitu 10% dari tagihan saat jatuh tempo, tetapi total bunga berjalan dari tagihan yang belum dibayarkan akan ditambahkan pada bulan berikutnya atau dikenal dengan  bunga yang berbunga lagi.

Dana yang tidak berkembang dan pemakaian kartu kredit yang berlebihan akan sangat mungkin menjerumuskan banyak orang ke dalam utang kartu kredit dan berpotensi menyeret masyarakat dalam jurang kemiskinan.

Simulasi Keuangan

Wiryawan memberikan contoh simulasi, bila ada seorang pegawai berusia 35 tahun dengan gaji 10 juta/bulan:

  • Pengeluaran bulanan sekitar 80% dari gaji atau sekitar 8 juta/bulan, atau sekitar (dibulatkan) 100 juta/tahun dan sisanya 2 juta/bulan atau sekitar 24 juta/tahun ditabung.

  • Diasumsikan pensiun di usia 55 tahun (usia produktif masih 20 tahun lagi)

  • Dengan asumsi ekonomi Indonesia cukup baik dan tingkat Inflasi dibawah 1 digit. Saat ia pensiun, pengeluaran 100 juta menjadi 386 juta karena inflasi

  • Bila orang tersebut hidup sampai 75 tahun, berarti bila pensiun usia 55 tahun, dia butuh uang untuk hidup selama 20 tahun lagi yaitu 20 tahun dikalikan 386 juta yaitu sekitar 7,7 miliar. Apakah ia punya uang sejumlah itu?

Miskin Saat Pensiun

Lebih lanjut Wiryawan mengatakan, di Indonesia, banyak orang-bahkan setingkat manager-, tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik. Uang mereka habis karena gaya hidup, tidak memiliki investasi yang baik-bahkan tidak pernah memiliki investasi-. 

Bila gaji bertambah, kebanyakan pengeluaran ikut bertambah. Pengeluaran seperti membeli handphone terbaru, ganti mobil, lebih sering berbelanja, hobi baru, liburan keluar negeri, pindah ke rumah yang lebih besar dan lain sebagainya. Ini kebiasaan banyak orang.

Bila gaya hidup tidak dirubah, pengeluaran bisa lebih besar daripada penghasilan, uang di tabungan dipakai. hutang (termasuk tagihan kartu kredit) terus bertambah. Akibatnya bisa gali lubang tutup lubang dan kebangkrutan di depan mata.

Banyak pola keuangan profesional yang amburadul, tidak terintegrasi:

  • Punya kartu kredit tapi revolver (bayar tidak full dengan bayar bunga pinjaman besar)

  • Punya asuransi atau reksadana dengan tujuan tidak jelas. Kalau ditanya, kenapa membeli asuransi tersebut, atau memilih reksadana tertentu, jawabannya karena tidak enak, yang jual saudara atau anak tetangga yang baru kerja.

Gaya hidup yang tidak menyesuaikan situasi dan kondisi, akan menjadi masalah, contohnya:

  • Saat masih aktif bekerja sehari satu bungkus rokok yang harganya terus naik, saat pensiun masih sama

  • Saat aktif bekerja, seminggu 3 kali makan siang di restoran mahal. Setelah pensiun kebiasaan itu masih ada

  • Saat jadi manager naik mobil mewah yang boros pengeluaran BBM, pajak, perawatan DLL. Saat pensiun masih memakai mobil tersebut

Ditambah lagi bila saat pensiun sakit sakitan atau biaya pengobatan bertambah, atau bisa saja anggota keluarga yang sakit, namun saat pensiun harus membayar sendiri (tidak ditanggung perusahaan lagi), rumah lama perlu renovasi DLL. Hal ini banyak menjadikan pensiunan menghadapi ancaman kemiskinan.

Millenial

Wiryawan juga membahas generasi millennial yang kebanyakan tidak bisa memiliki rumah karena harga rumah naik hingga 20% setiap tahunnya, tidak sebanding dengan pendapatan yang hanya akan mengalami kenaikan 10% setiap tahun.

Berdasarkan survey , generasi millennial:

  • Menghabiskan banyak uang untuk makan atau ngopi di resto. 

  • Tribunnews.com memaparkan bahwa millennial bergaji Rp. 27 juta/bulan menghabiskan lebih dari Rp. 47 juta/tahun untuk kopi (termasuk makanannya). 

Layanan e-commerce, seperti go food, grab dan lainnya sangat memudahkan sehingga menggoda seseorang untuk terikat menggunakannya, menguras pengeluaran. Perubahan zaman membuat gaya hidup masyarakat menjadi semakin konsumtif. Apabila dibandingkan dengan generasi x dan baby boomers, generasi millennial memiliki jumlah tabungannya lebih kecil namun pengeluaran lebih besar.

Wiryawan memberi kesimpulkan beberapa masalah yang terjadi di Indonesia:

  • Tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik

  • Pola pengaturan keuangan tidak terintegrasi dengan baik

  • Gaya hidup konsumtif yang sulit diubah.

Sarannya:

  • Lebih melek finansial, terus melakukan diskusi keuangan, meningkatkan literasi keuangan (sehingga bisa mengusahakan tabungan yang cukup, investasi yang aman dan seterusnya)

  • Hidup lebih bijak, hindari gaya hidup konsumtif

  • Hidup produktif dan efektif

  • Ubah pola pikir menjadi lebih positif, menjaga kesehatan mental, fisik dan rohani.

Artikel ini adalah bagian dari (klik) Susunan Edukasi Perencanaan Keuangan (rbebe.id). Kiranya bermanfaat, terus semangat. Merdeka Maju Berdaya.

(Tim RBeBe)

Kritik saran mohon sampaikan kepada kami, terimakasih.

Mari bersama (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.