7 Elemen Komunikasih

Tim RBeBe - 20 November 2025

Ketujuh elemen berikut ini saling terkait, melengkapi dan menguatkan

1. Good Purpose — Niat Baik

Niat baik adalah pondasi dari komunikasi positif. Komunikasi yang berangkat dari niat baik-termasuk sikap bertanggung jawab-, menuju kebaikan secara menyeluruh.

Semakin tinggi self-awareness (kesadaran diri) dan kesadaran di luar diri serta impact consideration (mempertimbangkan dampak) semakin baik hasil dari niat baik.

Niat baik termasuk dalam: 

  • Pilihan waktu dan kata, nada bicara, 

  • Cara mendengarkan dan memberi umpan balik.

Setiap komunikasi yang didasari oleh niat yang baik dan benar, bertujuan baik secara holistik, untuk kebaikan bersama, diri dan sesama.

2. Clarity & Conciseness — Kejelasan dan Keberesan

Banyak konflik muncul bukan karena niat buruk, tetapi karena pesan disampaikan dengan tidak jelas, bertele-tele, ambigu, atau tidak lengkap.

Komunikasih menekankan kejelasan:

  • Apa yang dimaksud,

  • Apa yang ingin dicapai,

  • Apa yang perlu dilakukan.

Pesan yang jelas menghindarkan salah paham dan meningkatkan efektivitas hubungan, baik personal, profesional, maupun sosial.

  • Kejelasan tidak hanya soal kata yang dipilih, tetapi state of mind (kondisi pikiran) orang yang berbicara.

  • Dalam kondisi emosional, perlu memahami dan mengetahui perasaan diri dulu.

  • Perlu disertakan teknik: reframing (membingkai ulang), summarizing/merangkum, clear request.

3. Listening–Observe — Mendengar dan Mengamati dengan Sadar

Salah satu penyakit komunikasi adalah tidak (benar-benar) mendengar. Mendengar adalah bentuk cinta paling sederhana yang perlu dilatih. Mendengar dengan hati dengan:

  • Active listening (mendengar aktif) 

  • Reflective listening (mendengar reflektif).

Mendengar, memahami, merasakan, melihat kepada lawan bicara dan sekitar:

  • Non-judgmental observation (observasi yang netral/tidak menghakimi)

  • memperhatikan bahasa tubuh,

  • membaca suasana,

  • menangkap emosi yang tidak terucap,

  • hati-hati dengan bias persepsi,

  • melatih: “Pause–Breathe Calmly–Observe” (berhenti - bernafas tenang - mengamati).

4. Empathy — Merasakan dari Perspektif Orang Lain

Empati membuat komunikasi menjadi manusiawi, yang mengajak seseorang berhenti sejenak dan membayangkan kondisi orang lain, akan situasi hatinya, beban hidupnya, ketakutannya dan kondisi lainnya.

Tanpa empati, kata-kata mudah berubah menjadi senjata.
Dengan empati, kata-kata menjadi penyembuh.

Kewaspadaan sikap empati:

  • Empati bisa melelahkan bila tanpa batas (empathy fatigue).

  • Empati bisa terkelabui oleh kondisi yang berbeda dari yang disangka.

  • Dalam konteks kepemimpinan, empati perlu penyeimbang berupa batasan dan ketegasan

Latihlah empathetic boundaries (batasan empati) untuk mewujudkan empati yang sehat dan tidak kehilangan objektivitas.

5. Discussion — Berbicara Dua Arah dengan Kesadaran

Komunikasih bukanlah komunikasi sepihak yang merasa paling benar, memaksakan pendapat dan mendominasi percakapan.

Diskusi yang sehat yaitu:

  • saling bertukar pikiran tanpa menghakimi,

  • saling mempengaruhi dengan saling menghargai,

  • saling melengkapi.

Alih-alih konflik dan debat kusir (debat tanpa akhir), diskusi membuka pintu solusi, ruang dialog.

Kewaspadaan diskusi:

  • sering gagal jika tidak diatur (misal: ada dominasi, agresi verbal).

  • Tidak semua konteks tepat untuk diskusi (misal: kondisi krisis, konflik panas).

  • Perlu pedoman: kapan berdiskusi, kapan tidak, dan bagaimana menetapkan aturan diskusi sehat.

Latihlah collaborative problem-solving (penyelesaian masalah kolaboratif/bersama).

6. Honesty — Kejujuran yang Memuliakan

Kejujuran akan membangun kepercayaan yang semakin mahal dan susah saat ini. Ketulusan merupakan suatu kejujuran dan kebaikan tanpa niat terselubung.

Kenyataan saat ini:

  • ketidakjujuran semakin merajalela dan ketulusan semakin langka,

  • fenomena kebohongan, gimmick, dan manipulasi publik semakin biasa,

  • kebohongan sudah dianggap biasa,

  • manipulasi informasi terjadi di banyak ruang,

  • orang bisa takut, enggan atau bahkan tidak terbiasa berkata jujur dan tulus bersikap.

Komunikasih mengembalikan nilai kejujuran dalam ketulusan sebagai pilar moral:

  • jujur dalam menyampaikan fakta,

  • jujur pada diri sendiri,

  • jujur tanpa melukai.

Kejujuran yang disampaikan dengan kasih adalah bentuk ketulusan tertinggi.

Kewaspadaan terkait ketulusan dan kejujuran:

  • Kejujuran tanpa kebijaksanaan bisa melukai.

  • Ada perbedaan antara “jujur” dan “transparan”—tidak semua hal harus diungkap.

Latihlah honesty with compassion (kejujuran dengan kasih sayang), contextual honesty (kejujuran kontekstual), dan ethical transparency (transparansi etika).

7. Wisdom — Kebijaksanaan dalam Menyampaikan & Menyikapi

Pondasi kebaikan yang paling kuat, sebagai penyeimbang dan penyempurna.

Elemen ini yang paling mulia dan menantang penguasaannya, membutuhkan kedewasaan, kematangan dan berpikir panjang. Komunikasi bukan hanya tentang aksi atau apa yang dikatakan, tetapi kapan dan bagaimana melakukan/mengatakannya.

Elemen ini mengajak kita:

  • mempertimbangkan dampak komunikasi,

  • memahami waktu yang tepat,

  • menahan diri ketika emosi memuncak,

  • memilih respons yang menciptakan kebaikan jangka panjang.

Kebijaksanaan adalah mahkota komunikasi. Tanpanya, kalimat benar pun bisa melukai.

Melatih Kebijaksanaan:

  • Gabungkan aspek moral, emosional, dan intelektual.

  • Bangun 3 komponen kebijaksanaan:

    1. Pengetahuan (knowledge)

    2. Kematangan emosional (emotional maturity)

    3. Pertimbangan moral (ethical judgement)

  • Aksi 3 unsur kebijaksanaan:

    • Kognitif (pengetahuan, pemikiran logis)

    • Reflektif (instripeksi, pemaknaan)

    • Empati (memahami, sudut pandang berbeda)

Klik Komunikasi"h" Biar Hidup Gak Kiamat | Langgeng @rbebe.id

Artikel ini adalah bagian dari (klik) Susunan Konten Edukasi Komunikasih @rbebe.id, Kiranya bermanfaat. Terus semangat. Merdeka Maju Berdaya.

(Artikel ini kerjasama RBeBe dengan program Langgeng)

Masukan dan saran mohon sampaikan kepada kami. Terimakasih.

Mari bantu (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.