Natal, Sekedar Follower atau Meneladani?
Tim RBeBe - 11 December 2023
Menjelang dini hari, sekitar dua jam setelah umat pulang dari ibadah malam Natal suatu Gereja di sebuah desa, tiba-tiba bunyi kembang api sahut-menyahut, dentuman keras dan kerlap-kerlip indah di angkasa bertahan sekitar 30 menit. Sebagian yang ikut berpesta kembang api jelas terlihat adalah umat Kristiani. Dengan harga roket kembang api yang tidak murah, tidak tampak bahwa saat itu masih masa pandemi, dimana banyak masyarakat terdampak ekonomi. Masa Natal yang selalu diikuti dengan masa libur akhir tahun, menjadikan pesta kembang api sebagai hiburan dalam kebersamaan acara kumpul keluarga. Diantara suara dentuman kembang api, sayup-sayup terdengar lagu O'Holy Night.
Pesta kembang api massal oleh umat Kristiani bisa dipandang dari sudut pandang yang berbeda. Bisa dipandang sebagai indahnya kebersamaan keluarga atau pendapatan bagi produsen dan penjual kembang api, bisa juga dipandang sebagai pemborosan uang, kurangnya empati, hilangnya makna natal atau sudut pandang lainnya.
Berapa Banyak Yang Sejati?
Dari jumlah penganut agama di dunia (klik untuk melihat video grafik penyebaran agama dari 1946-2019 dari Art is Data) menempatkan umat Kristen Katolik, Protestan, Orthodox dan Anglikan sejumlah 2,1 Milyar.
Dari jumlah tersebut, berapa banyak pengikut sejati Yesus yang berusaha mengikuti firman Nya serta meneladani Nya dan berapa banyak yang sekedar pengagum (atau bahkan hanya iman yang basa-basi) ?
Basa Basi, Sekedar Follower atau Meneladani?
Dalam dunia yang semakin hedonis seringkali manusia memanfaatkan 'agama' untuk bisnis. Tokoh Santa Clause dihadirkan untuk melariskan produk atau meramaikan pusat perbelanjaan. Pemandangan kontras juga sering terlihat, dimana kandang domba tempat Yesus lahir yang bersahaja dan sederhana, dikelilingi oleh gedung, ornamen dan gaya hidup yang mewah. Secara halus dan menyenangkan 'tanpa sadar' akan menggiring banyak hati untuk melupakan esensi Natal sebenarnya.
Banyak terlihat seseorang dengan atribut keagamaan tertentu, tapi penampilan dan sikapnya tidak mencerminkann makna simbol yang ia kenakan, bahkan ada yang melecehkan, ironisnya lagi banyak yang tanpa sadar melakukannya. Rutinitas ibadah keagamaan pun seringkali tampak tidak berdampak pada perilaku harian umat. Saat baru saja keluar dari rumah ibadah, perilaku seseorang bisa saja menjadi tidak sabar, egois, rakus, komsumtif, materialistis, emosional, pelit dan sikap yang se'level' lainnya, sangat bertolak belakang dengan ajaran yang ia anut.
"Follow ya" atau "Jangan lupa like" semakin sering didengar saat ini. Tinggal klik, mudah sekali. Namun tidak semudah itu bagi umat Kristiani yang seharusnya meneladani segala hal tentang Yesus Kristus. Pertanyaan reflektif bagi setiap umat Kristiani adalah, apakah iman nya sekedar "like" dan "follow", atau benar-benar berusaha meneladani Nya?
Karakter Yesus Kristus
Dengan kelahiran Nya di dunia sampai kematian Nya di salib, Yesus adalah perwujudan 'Cinta yang Teramat Besar dan Tampak Tidak Mungkin' wujud Tuhan yang menjadi manusia untuk keselamatan manusia ciptaan Nya. Sejak Yesus bayi, terlihat kesempurnaan karakter Nya seperti tertera dalam kitab injil, seperti:
-
Penuh Pengorbanan: dari wujudnya sang Pencipta menjadi manusia yang dihinakan sampai mati disalib, sudah jelas bahwa itu pengorbanan yang tiada bandingnya
-
Rendah Hati: kebesaran dan kemuliaan Nya yang ditanggalkan, menjadi manusia biasa, dilahirkan di palungan kandang domba dan seluruh perjalanan hidupnya jelas menggambarkan betapa indah kerendahan hati Nya yang tak tertandingi. Peristiwa pembasuhan kaki juga menggambarkan betapa ia rendah hati.
-
Bersahaja, Sederhana: terkait erat dengan kerendah hatiannya yang tak tertandingi, seluruh hidupnya yang tercantum di perjanjian baru menyatakan kebersahajaan dan kesederhanaanya, dari kelahirannya, hidupnya yang berkelana tidur di mana saja bahkan di ruang terbuka
-
Bijaksana: terlihat dari berbagai pandangan dan pengajarannya, seperti saat ia menyikapi perempuan yang berzina dalam Yohanes 7:53-8:11.
-
Pengampun: jelas dengan tujuannya hadir menjadi manusia untuk keselamatan manusia, penebusan dosa, maka Yesus adalah pengampun yang luar biasa. Juga dalam peristiwa perempuan yang berzina tampak bahwa Yesus adalah pengampun.
-
Berani dalam benar: ia berani bersuara mengecam berbagai hal negatif terkait kebiasaan orang farisi dan ahli taurat, mengusir para pedagang dari Bait Allah (Matius 21:12-13) sampai ia berani menghadapi penyalibannya dengan tetap berada di taman Getsemani sampai ditangkap prajurit.
-
Berbelas Kasih dan Murah Hati: seperti saat ia lelah sekali dan ingin beristirahat namun banyak orang mengikutinya, ia tetap melayani mereka, memberi kesembuhan pada yang sakit dan memberi makan dengan mengadakan mukjizat memperbanyak roti dan ikan (tertera di keempat injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Penebusannya untuk keselamatan manusia adalah belas kasih yang teramat berharga.
Dari berbagai karakter Nya diatas, umat dapat menelisik kedalam diri sendiri, apakah ia adalah golongan orang-orang yang munafik yang berkata 'saya Kistiani' tapi tidak berusaha keras menjalankan firman Tuhan? Ataukah ia sudah senantiasa berusaha keras dengan sungguh-sungguh menjalankan firman dan teladan Nya?
Kiranya kedamaian, ketenangan, hidup penuh makna, yang dirangkum dalam rasa 'bahagia' akan menyertai pribadi-pribadi yang meneladani Yesus, suatu kemenangan sejati di bumi dan (bagi yang percaya) kelak keselamatan di surga.
Klik Susunan Lengkap Materi Natal (rbebe.id). Kiranya bermanfaat. Terus semangat.
(Artikel ini kerjasama RBeBe dengan Tim Agama Kristen)
Kritik dan saran mohon sampaikan kepada kami. Terimakasih.




